Antisipasi bencana di Musim Penghujan bersama Pemerintah dan Masyarakat Merauke


Merauke (13/02) – Musim penghujan awal tahun ini di Kabupaten Merauke membawa kebahagiaan bagi sebagian besar masyarakat Merauke. Mengingat bahwa selama kurang lebih sembilan bulan sebelumnya telah terjadi musim kemarau yang sangat panjang mendera masyarakat. Walaupun belum dianggap sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat  kemarau berkepanjangan, namun selama sembilan bulan itu cukup membuat resah warga. Sumber-sumber air kering sehingga masyarakat kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Kini dengan datangnya musim penghujan, mulai menjadi perhatian khusus pemerintah dan masyarakat terkait munculnya wabah penyakit. Seperti halnya terjadi di daerah lain, biasanya kehadiran musim penghujan diikuti dengan munculnya musibah-musibah seperti banjir, tanah longsor, kecelakaan moda transportasi ( darat,laut,udara), hingga munculnya berbagai macam penyakit.Menyikapi hal tersebut, maka kesiapsiagaan berbagai elemen masyarakat dan pemerintah dalam mengantisipasi dampak negatif dari musim penghujan sangat dibutuhkan. Pagi ini, tepat pukul 07.15 Wit bertempat di Studio 1 RRI (Radio Republik Indonesia)  Merauke digelar dialog interaktif dalam kaitannya dengan antisipasi bencana di musim penghujan. Hadir dalam dialog tersebut perwakilan-perwakilan instansi pemerintah seperti dari Dinas kesehatan Kabupaten Merauke, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Merauke, Dinas Kebersihan dan Tata-Tata Kota Merauke serta Badan SAR Nasional Merauke.Dialog yang dipandu Jack Resubun ini lebih menyoroti upaya-upaya antisipasi dampak yang ditimbulkan oleh musim penghujan. Seperti disampaikan Dr. Steve Osok selaku Kepala Dinas Kesehatan Merauke terkait ancaman bencana bahwa selain bencana alam, bencana penyakit berpotensi wabah seperti demam berdarah, diare dan muntaber rawan terjadi di daerah yang saluran drainase, selokan dan pembuangan airnya tidak baik. Sehingga air akan menggenang dan menjadi tempat berkembang biak media penularan penyakit seperti nyamuk. Oleh karenanya antisipasi yang harus dilakukan adalah kegiatan pembersihan penampungan air, mengubur barang bekas.Ketika disinggung mengenai kesiapsiagaan BASARNAS dalam antisipasi musibah yang terjadi selama musim penghujan khususnya musibah di laut dan pesisir pantai, Sunarto selaku Kepala Seksi Potensi Kantor SAR Merauke meyampaikan bahwa BASARNAS sesuai amanat undang-undang penanganan bencana menjadi Leading Sector dalam hal pencarian dan pertolongan terhadap orang atau benda  yang hilang maupun di duga hilang dalam musibah pelayaran, penerbangan, bencana dan bencana lainnya. Sejalan dengan Undang-Undang nomor 24 tahun 2007 terkait bencana, BASARNAS beserta instansi-instansi lain berpotensi SAR berada di dalamnya dengan pemerintah daerah sebagai penanggung jawab penuh seluruh rangkaian penanggulangan bencana. Sunarto menambahkan himbauan kepada masyarakat agar sesegera mungkin melaporkan kepada Kantor SAR Merauke jika masyarakat mendengar atau melihat langsung  terjadinya musibah ataupun bencana dimana ada dugaan terjadi korban. Hal ini untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa. “ Kami sudah siapkan peralatan seperti perahu karet, kapal dan personil selama 24 jam penuh untuk antisipasi kebutuhan pencarian dan pertolongan serta evakuasi “ pungkasnya. (dwb/humas)



Kategori General Artikel .
Pengunggah : author